Day10 challenge

Sejak pindah kerumah dengan dua kamar, anak-anak sudah mulai dilatih untuk tidur terpisah dengan orang tuanya, walaupun saya masih mengeloni mereka sebelum tidur hingga sekarang. Jika mereka sudah terlelap barulah saya pindah, walau tak jarang ketiduran sampai pagi bersama mereka😁.

Sudah beberapa kali belakangan ini, sulungku Laikha sering memintaku untuk tidak pindah ke kamar ayahnya, dengan alasan dia tidak mau sendiri. Padahal, Laikha pun tak jarang pindah tidur pula dengan ayahnya bahkan dengan adiknya, saya ditinggal sendiri dikamar mereka.

Singkat cerita, akhirnya kami sama2 sepakat, saya boleh pindah ke kamar depan kalau Laikha sudah tidur dan tidak boleh lama2, saya harus kembali tidur dengannya. Saya juga mengijinkan Laikha pindah ketika dia ingin tidur dengan Ayahnya.

Laikha, sulungku yang masih butuh manja denganku walau sedikit banyak dia sudah membantuku dirumah.😊

#Hari10
#GameLevel1
#Tantangan10hari
#KomunikasiProduktif
#KuliahBunsayIIP

Iklan

Day 8

Membangun Komunikasi Positif Orang Tua- Anak

Komunikasi yang baik sangat penting dalam hubungan antara orangtua dan anak. Karena melalui komunikasi orangtua dapat membangun hubungan yang menyenangkan dan positif. Dalam penelitian terkini juga menyebutkan bahwa anak yang tumbuh dengan komunikasi positif dengan orangtua cenderung memiliki kepribadian, daya tahan terhadap stress dan _self esteem_ yang lebih baik dibandingkan dengan anak yang memiliki hubungan dan komunikasi yang buruk dengan orangtua.

Seperti yang dikutip dari perkataan diatas, komunikasi positif harus terjalin antar orang tua dan anak. Dengan komunikasi produktif dapat membantu mewujudkan komunikasi positif terhadap anak.

Lalu jika ditarik kesimpulan, orang tua khususnya Ibu yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan anak-anak harus tetap waras, positif dan bahagia agar komunikasi produktif terlaksana hingga dapat membangun komunikasi yang positif untuk menunjang kepribadian sang anak.

Oleh karena itu, saya sebagai ibu, harus mampu juga membangun komunikasi positif dengan suami. Karena suami salah satu pendukung kewarasan dan kepositifan saya😁.

Kali ini partner tantangan komunikasi produktif saya adalah suami saya. Karena Suamilah sumber kebahagiaan agar selalu waras dikala menantinya dirumah bersama anak-anak.

Saya dan suami jarang sekali mempunyai waktu untuk duduk berdua membicarakan hal serius, seringnya kami hanya bercerita tentang cerita hari ini atau menonton film. Selain itu, ketika kita bicara serius, ada saja yang akan memicu sebuah perselisihan. Mungkin karena saya yang berfikir terlalu jauh hingga penafsiran yang didapat berbeda.

Kali ini, ada hal serius yang harus dibicarakan, berkaitan dengan kesejahteraan seluruh keluarga. Saya memilih untuk mendiskusikannya dahulu lewat whatsapp aplikasi. Jalan ini saya pilih, karena dapat meredam emosi yang berlebihan jika ada yang kurang pas dihati dan suami akan lebih terbuka untuk bercerita.

Terkesan aneh memang, karena kenapa harus lewat media, kenapa tidak tatap muka langsung saja. Awalnya saya berfikir begitu, setelah dicoba khususnya untuk permasalahan yang rentan menimbulkan kesalahpahaman, kami akan berdiskusi via media terlebih dahulu. Berusaha mencari tahu maksud dari pasangan dan lebih bisa menenangkan diri.

Baru setelahnya kita akan leluasa membicarakan masalah tersebut tanpa harus berfikir bahwa dia akan marah, tidak terima dan lain sebagainya.

Buat saya komunikasi produktif juga bisa dilakukan via media tertentu, terutama ketika kita dalam keadaan emosi dan berfikiran negatif.

Semoga hari-hari selanjutnya akan selalu dimudahkan dalam menggunakan komunikasi produktif dengan anak dan suami.

Semangaaaat

#Day8

#GameLevel1
#Tantangan10hari
#KomunikasiProduktif
#KuliahBunsayIIP

Day 6

Lanjutan cerita di hari kemarin tanggal 7 november 2017.

Masih tentang penerapan adab makan dan pembiasaan makan sendiri kepada anak-anak.

Hari ini hari kedua, anak-anak makan sendiri tanpa disuapin. Hari ini, saya memberikan instruksi dan yang tidak boleh dilakukan saat makan di awal saja. Saya berusaha keras untuk menahan diri untuk tidak berkomentar selama masih dalam taraf wajar.

Hasilnya, mereka menghabiskan makanannya dan berkurang untuk saling mengadukan satu sama lainnya kepada saya.

Alhamdulillah, sekarang saya tinggal mencari cara memberitahukan hal2 yang seharusnya mereka tidak boleh lakukan saat makan agar mereka ingat dan saya tidak perlu mengulang-ulang saat makan bersama. Sehingga kita bisa bercerita hal lain saat makan bersama.

#Day6

#GameLevel1
#Tantangan10hari
#KomunikasiProduktif
#KuliahBunsayIIP

Day 7

Anak-anak sedang senang bermain boneka, mereka punya masing2 bonekanya. Laikha memilih teddy bear dan Ara akhirnya memilih dino berwarna pink.

Mereka senang sekali hingga tidur pun selalu dibawa, tetapi belakangan ini, Ara mulai bosan dan ingin teddy milik kakaknya.

Seringkali terjadi rebutan dan adu mulut diantara mereka. Ketika sang kakak mulai kesal karena merasa miliknya diambil, saya pun masuk mencoba berkomunikasi bersama mereka.

Bunda: ada apa ini? Kok kesal2 terdengar dari luar

Laikha: kata uni, ini teddynya uni, itu kan punya kakak

Ara: Dedek juga mau peluk teddy kayak kakak

Laikha: kakak udah pinjemin tapi uni bilang itu punya uni, punya uni kan dino

Saya pun menghela nafas dan mulai berkata:

Bunda: Ara, ini boneka kakak. Ara boleh pinjam kalau kakak beri izin. Punya Ara yang ini, dino.

Ara: Dedek mau teddy juga bun dino juga

Bunda: Uni kan sudah dikasih untuk memilih, mau teddy atau dino, uni pilihnya dino. Kalau mau pinjam boleh tapi bilang dulu ke kakak. Kakak juga klw mau pinjam dino, bilang dulu ke Uni ya.

Ara akhirnya mengembalikan teddy milik kakaknya walau agak terpaksa. Lalu, terima kasih ya Uni, ini boneka kakak ini punya uni. Besok2 kalau kita ads rejeki lagi, uni boleh pilih mainan yang sama dengan kakak ya.

Endingnya mereka kembali bermain bersama.😁

#Hari7
#GameLevel1
#Tantangan10hari
#KomunikasiProduktif
#KuliahBunsayIIP

Day 5

Late post,ini kejadian dihari 5 tanggal 6 November 2017

Hari ini, saya mulai menerapkan makan sendiri kembali. Sekalian membiasakan anak-anak untuk duduk diam dan tenang saat makan. Agar perlahan meninggalkan gaya makan sambil bermain.

Saya pun menyiapkan alas makan dan makanannya, lalu kami duduk makan bersama.

Bunda: Hari ini kita belajar makan sendiri ya. Mau dengan sendok atau tangan makannya?

Anak2: sendok bunda

Bunda: Baca bismillah dulu ya sebelum makan, makan nasi dan lauknya ya, lauknya harus cukup dengan nasinya ya.

Anak2: iya bunda

Makanlah kami, komunikasi produktif yang coba saya lakukan diawal, gagal karena saya tidak bisa menahan diri untuk tidak berkomentar jika ada yang salah dan tidak pantas saat mereka makan.

Akhirnya mereka makan dengan sibuk memperhatikan kakak atau adiknya lalu mengadukan kepada saya.

Giving trust means that I should give a whole trust on me for them without any correction or comment.

Pelajaran yang bisa diambil, menahan diri untuk tidak selalu mengoreksi atau memberikan komentar ketika kita percaya pada mereka. Hal positif dan sisi berhasil dari komunikasi produktif yang saya coba dia awal adalah, anak-anak tetap menghabiskan nasinya walau lauknya sudah habis.

#Hari5
#GameLevel1
#Tantangan10hari
#KomunikasiProduktif
#KuliahBunsayIIP

Game challenge Level 1

Day 4

Hari ini kami menghabiskan waktu dirumah neneknya anak-anak.

Ada beberapa kejadian yang terjadi yang menguji kesabaran saya. Salah satunya adalah, ketika Ara berselisih dengan kakaknya Laikha.

Tadi mereka berselisih tentang gambar.

A: Bunda, uni mau coret2 gambar bear aku bun

Saya pun menoleh untuk melihat apa yang sedang terjadi. Ternyata memang benar, kakak sedang minta digambarkan lagi oleh Ayahnya gambar boneka dino adiknya setelah gambar boneka teddy miliknya selesai ia warnai.

Lalu, Ara mendekati kakak dengan menggenggam spidol ditangannya dan kemudian mencoret gambar kakaknya. Saya coba halangi agar tidak berlanjut.

B: Ara, ara mau juga digambarin ayah?

A: iya (sembari masih mencoba mencoret punya kakaknya)

B: yasudah gantian ya, setelah kakak Ara yang digambarkan oleh Ayah.

Ara bukan merasa senang tetapi dia malah merajuk menjauhkan spidol dan buku gambarnya

Sepertinya dia cemburu, dia juga ingin seperti kakaknya, asyik digambarkan ayahnya. Ketika kakak sedang belajar menulis dengan saya pun Ara mengganggu.

Harus mencari cara efektif agar kebutuhan belajar kakak disaat dia ingin belajar terpenuhi tanpa Ara merasa tidak diperhatikan.

Semangat cari tahu

#Day4
#GameLevel1
#Tantangan10hari
#KomunikasiProduktif
#KuliahBunsayIIP

Game Challenge Level 1

Day 3

Hari ini ayahnya anak-anak libur, jadi mereka mandi sama ayahnya. Ada yang berbeda terjadi hari ini dengan si tengah Ara. Hari-hari biasa Ara sudah paham untuk menaruh baju kotornya ditempatnya dan menaruh handuknya kembali setelah mandi.

Tetapi hari ini, Ara tak mau sisiran dan tak mau menaruh kembali handuknya setelah mandi.

Saya coba terapkan berbicara sama rendah/tinggi dengannya, saya duduk berhadapan dengannya, memegang pundaknya sambil memulai bicara.

Ternyata saya gagal😐, Ara menjauh dan mengelak. Menarik nafas dalam dan istighfar mencoba mengkontrol emosi sebelum akhirnya meluap dan menyesal, akhirnya saya mengalah untuk membiarkannya pada hari ini.

Saya pun berlalu sambil berkata, “Uni, bunda sedih deh hari ini uni lupa taruh handuk, yasudah hari ini bunda yang taruh.”

Jadi saya stop memaksakan keinginan saya, dan saya biarkan hari ini. Ara pun langsung berlari dan merengek-rengek pada ayahnya. Sepertinya Ara sedang ingin diperhatikan ayahnya dengan pemberontakan-pemberontakan kecil yang ia buat pagi ini. Karena akhirnya Ara mau sisiran karena ayahnya yang menyisirnya dan saya hanya boleh menguncir rambutnya tanpa sisir, karena sudah disisir oleh ayahnya kata Ara.

Ara putri kecilnya Ayah, yang selalu ingin manja dengan ayahnya😁

Komunikasi Produktif sayapun gagal pada hari ini, tetapi saya berhasil mengkontrol emosi dan mencoba memahami maksud dari sikap Ara. Semoga besok bisa berhasil.😄

#Day3
#GameLevel1
#Tantangan10hari
#KomunikasiProduktif
#KuliahBunsayIIP

Game challenge Level 1

Day2

Hari kedua, setelah kemarin dengan suami, kini saya memilih putri kecil saya nomor dua yang berumur 2,9 tahun.

Masih menjadi tantangan yang besar buat saya untuk berkomunikasi dengannya, karena Ara (namanya) sangat perasa, mudah sekali ngambek, egonya masih tinggi dan gampang nangis.

Tadi setelah santap malam, sembari menurunkan makanan yang baru saja disantap saya mencoba mengajak Ara berbincang.

A: Ara

B: Bunda

B: Uni, uni sebel sama bunda kalau bunda lagi kenapa?

A: mmmhh, dedek sedih kalau bunda marah2

B: oh, terus apa lagi?

A: kalau bundanya pusing sama inget dedek acha, bundanya boboan terus

B: Oh bgitu ya. Iya deh bunda bsok-bsok marahnya dikit aja ya

A: direspon dengan nyengir😁

B: Bunda juga sedih deh kalau uni lagi gak nurut sama buna kalau lagi ada ayah.

Bunda juga sedih kalau uni gak mau beresin mainan

A: kan dedek capek bunda beresinnya. Dedek lagi mau sama ayah gak mau sama bunda

B: kok gak mau sama bunda? Dedek kangen sama ayah jdi maunya sama ayah terus?

A: iyaa

B: oh bgitu

Begitu kira-kira potongan perbincangan saya dengan Ara anak nomor dua saya. Saya mencoba untuk melatih dia mengutarakan apa ketidaksukaannya terhadap saya. Semoga semakin dimudahkan dan lebib sabar lagi dengannya saat berkomunikasi dengan Ara.

Sampai besok lagi ya Ara, 8 hari kedepan jadi teman belajar bunda dulu 😁

#Day2
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Game Challenge Level 1

BUNSAY CLASS

IIP Bekasi

Bismillah,

Setelah libur panjang dari kelas Matrikulasi IIP bekasi, kini saya melanjutkan di kelas berikutnya yaitu Kelas Bunsay (Bunda Sayang).

Materi yang diberikan dikelas ini berupa tantangan permainan, ada 12 level game challenge setiap bulannya yang harus diselesaikan oleh masing-masing peserta kelas.

Bulan pertama dibulan November ini kami mendapatkan tantangan bertema “Komunikasi Produktif” antar anggota keluarga.

Materi ini, seolah menerbangkan saya kembali ke bangku perkuliahan dulu saat mempelajari mata kuliah Komunikasi.

Merujuk kepada pengertian Komunikasi itu sendiri bahwa adanya penyampaian ide atau pesan antar dua orang atau lebih yang memberikan efek atau perubahan setelah mendapatkan pesan tersebut.

Saya memilih Suami, untuk dijadikan target tantangan pada hari pertama ini. Karena semenjak bekerja diperusahaan dan memiliki anak-anak yang berjarak dekat seringkali kami kesulitan untuk berbicara serius tentang visi misi atau rumah tangga.

Semalam, ketika Suami selesai makan sambil menunggu waktu tidur, saya bercerita tentang kelas bunsay yang akan segera dimulai dan betapa excitingnya saya akan hal tersebut. Tetapi respon beliau tidak menunjukkan antusias dan tersirat agak kurang suka dengan ketertarikan saya.

Me: Ayah, bunda salah waktu ya ceritanya?

Suami: Ah, Enggak. Yaudah cerita aja aku dengerin kok. (Sambil sibuk dengan gadgetnya)

Me: Sepertinya, Bunda salah waktu ya yah. Yasudah besok-besok saja ceritanya. Maaf ya yah

Suami: Oh yasudah

Saya yakin ada perasaan yang tersimpan dipikiran dan hati suami. Tapi kami sepakat tidak meneruskan agar tidak ada pertengkaran setelahnya.

Keesokan harinya saat dikantor barulah suami menceritakan apa yang dia rasakan tadi malam saat saya bercerita, melalui media Whatsapp.

Intinya adalah Suami ingin saya memberikan semangat yang sama untuk perbaikan Ibadah, semangat yang lebih juga dalam menuntut ilmu agama bukan hanya parenting agar balance dan visi misi keluarga bertemu kembali di Syurga tercapai bersama.

Lalu percakapan kami tutup dengan sepakat akan menjadwalkan kajian ilmu bukan hanya untuk suami saja tetapi untuk saya juga.

Walau via whatssapp menurut saya ini sudah terjadi komunikasi produktif, ketika berbicara langsung dan ternyata tidak sepaham dan ada emosi yang membalut, kami memilih untuk menyudahi, lalu kami lanjutkan ketika emosi dan pikiran negatif kami mereda. Akhirnya kami pun mendapatkan kesepakatan bersama.

#Day 1
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Ketika Cerita itu Bermula

          Sore itu, disebuah tempat yang cukup sederhana untuk sebuah rumah Pendidikan, ku menghabiskan senjaku, berbincang dengan seorang teman. Kami saling berbincang tentang aktifitas kami satu sama lain. Beliau adalah salah satu kolega bisnis yang sedang kujalani saat ini. Rima namanya. Perbincangan kami pun sampai kepada persoalan Rumah Tangga. Beliau sudah menjalani kehidupan pernikahannya lebih lama daripada aku. Aku pun kagum dengan segudang aktifitasnya dan jalinan komunikasi antar suaminya selalu terjaga keharmonisannya serta ritme kewajiban domestiknya yang tersusun rapi setiap harinya.

          Aku pun bertanya padanya, “Ima, apik sekali kau mengatur segala aktifitasmu baik didalam rumah tangga hingga aktifitasmu diluar” pujiku padanya. “Bagaimana cara kau mengatur agendamu itu, hingga tak berbenturan? Aktifitas apa sih yang sedang kau ikuti sekarang, terlihat kau sibuk sekali tetapi keluargamu tetap terjaga?” kuberondong ia dengan banyak pertanyaan, Karena rasa penasaranku yang teramat tinggi. Teman baikku itu tersenyum dan menjawab segala gundahku. “Daya, aku masih jauh dari apik, aku masih belajar menjadi Ibu dan Istri yang seutuhnya, professional dalam menjadi seorang Ibu dan Istri. Awalnya aku kewalahan, tak jarang stress melanda yang akibatkan keadaan di rumah tak kondusif. Bahkan komunikasi dengan suami sering berakhir salah paham.”

    “Ketika kuberada dikegalauan yang sangat dalam, Allah Subhanahuwa Ta’ala menunjukkanku jalan keluar. Ku diperkenalkan oleh seorang kawan yang akhirnya mengenalkanku pada sebuah Komunitas Ibu Profesional. Didalam komunitas inilah, banyak ibu dan istri berkumpul bersama untuk sama-sama belajar, sama-sama merasa dan sama-sama saling menguatkan agar kita tetap pada jalurnya sesuai dengan kodrat kita diciptakan dan tetap bahagia dalam menjalankannya,” Penjelasannya menambah rasa penasaranku semakin tinggi. Aku tertarik dengan komunitas yang ia ikuti. “Daya, yuk ikut gabung di komunitas ini, In syaa Allah akan banyak ilmu yang kita dapat, dan yang terpenting kita tidak lagi merasa sendiri. Karena, ketika kita bergabung dengan teman-teman di komunitas ini dari seluruh Indonesia, seolah kita punya banyak teman seperjuangan yang siap menyemangati kita disaat kita mulai melemah.” Lanjutnya kembali untuk meyakinkanku.

         Aku tertarik dan sekaligus ragu, “tapi Ima, apakah tidak apa jika nantinya aku tidak bisa hadir dalam acara *kopdarnya?” agak susah untuk membawa anak-anakku yang masih kecil keluar bersamaku” tanyaku lagi. “kopdar itu tidak wajib selalu datang saat ada agendanya, kita bisa hadir ketika bisa saja” jelas Rima. “Sudah lebih baik kau pikirkan saja dulu Daya ketika kau dirumah, jika ada yang ingin kau tanyakan lagi, tanyakan saja ya. In syaa Allah kau tak akan menyesal.” Tambahnya sembari tersenyum.

     Tak lama adzan Magrib pun berkumandang, percakapan kami ditutup dengan panggilanNya untuk menunaikan sholat magrib. Setelah menunaikan sholat magrib kami pun berpisah menuju tempat tujuan kami masing-masing. Sepeninggalnya Rima, aku pun melangkahkan kaki pulang kerumah menuju ke ketiga putriku yang sedang menungguku dirumah bersama seorang baby sitter. Sepanjang jalan, ku selalu terngiang akan cerita Rima kolega ku. Aku benar-benar takjub akan dirinya. Belakangan ini kusering terlarut dalam sedih karena merasa gagal, gagal menjadi diri sebagai wanita, sebagai ibu dan sebagai istri.

       Aku sadar, hanya tersadar bahwa banyak yang harus kurubah. Mulai dari menata emosiku, tutur kata dan tingkah laku terhadap suami hingga pola mengasuh dan mendidik anak-anak yang baik. Tapi seringnya ku belum bangkit, ku masih kalah akan kenyamanan. Aku masih sering jatuh hingga kebagian dalam penyesalan, karena mata rantainya belum terputus ku masih mengulanginya lagi, walau aku menyesal pada akhirnya. Lalu apa iya jika kubergabung dengan komunitas itu, bisa membantuku atau hanya sesuatu yang sia-sia? Apakah aku bisa membagi waktu nantinya? Apakah ini keputusan yang tepat untuk diriku dan keluarga kecilku?

Bersambung

*Kopdar: Kopi darat, ketemuan, ngumpul bareng atau bisa ditarik kesimpulan istilah yang umum digunakan untuk pertemuan yang dilakukan oleh sekelompok orang atau komunitas tertentu yang frekuensi pertemuannya sangat rendah.